ketawadong

Jokes ala Gus Dur [regulary updated]

[B]Tahu Jumlah Peserta Seminar Lewat Shalawat

Seperti biasa aja, Gus Dur datang ke sebuah acara seminar dengan gaya naturalnya. Dan waktu itu Gus Dur membuka acara dengan meminta para hadirin untuk membaca shalawat untuk Nabi dulu. Begitu suasana sudah hening lagi setelah beberapa saat pada semangat baca shalawat, Gus Dur langsung membuka satu rahasia.

“Tujuan shalawat tadi, selain dapat ganjaran (pahala), juga biar saya jadi tahu berapa banyak peserta yang hadir. Habisnya saya kan nggak ngeliat. Ya udah, dengan shalawat saja,” terang Gus Dur.

Maju Aja Dituntun, Apalagi Mundur

Gus Dur dalam berbagai kesempatan selalu berkata jujur. Akibat kejujurannya itu, kadang kala disertai humor “tingkat tinggi” yang membuat para pendengarnya tergelak.

Salah satu contohnya kala Gus Dur menanggapi berbagai desakan agar dirinya mundur. Tanpa basa-basi dia pun menimpali.

“Maju aja masih haru dituntun, apalagi mundur,” ujar Gus Dur.

Dilarang Saling Melempar

Gus Dur seperti tak pernah kehabisan cerita, khususnya yang bernada sindiran politik. Menurut dia, ada kejadian menarik di masa pemerintahan Orde Baru. Suatu kali Presiden Soeharto berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Karena yang pergi seorang presiden, tentu sejumlah menteri harus turut mendampingi. Termasuk “peminta petunjuk” yang paling rajin. Menteri Penerangan Harmoko.

Setelah melewati beberapa ritual haji, rombongan Soeharto pun melaksankan jumrah, yakni simbol untuk mengusir setan dengan cara melempar sebuah tiang mirip patung. Di sinlah muncul masalah, terutama bagi Harmoko. Beberapa kali batu yang dilemparnya selalu berbalik arah menghantam jidatnya.

Harmoko melempar lagi. Dan batu yang dilemparnya kembali lagi membentur jidatnya. “Wah kenapa jadi begini, ya?” pikir Harmoko, mulaii gemetar karena takut. Ia lalu berpindah posisi.

Hasilnya sama saja: batu yang dilemparnya seperti ada yang melempar balik ke arah dirinya. Setelah tujuh kali lemparan hasilnya masih sama, Harmoko menoleh kiri kanan, mencari posisi Presiden Soeharto untuk “meminta petunjuk”. Ketemu, lalu dengan tergopoh-gopoh menghampiri Bapak Presiden.

Namun, sebelum sampai di hadapan Bapak Presiden, ia turut mendengar bisikan. “Hai manusia, sesama setan dilarang saling melempar.”

Sepakbola Indonesia Masuk Piala Dunia

Gus Dur dianggap oleh warga NU memiliki kelebihan seperti halnya para wali. Tak heran jika apapun juga banyak orang menanyakan kepada Gus Dur. Termasuk ketika Piala Dunia 2006 silam.

“Gus, yang masuk final kira-kira siapa ya?”
“Ya pokoknya kalau nggak Argentina, Jerman, Brasil, ya Prancis.”

Ternyata apa yang dikatakan Gus Dur benar. Salah satu dari empat tim itu lolos sampai final. Mungkin karena Gus Dur menyebut empat tim sekaligus. Tapi Bolamania tetap beranggapan Gus Dur memang wali.

“Wih, Gus Dur wali beneran nih.”

Tapi jawaban Gus Dur langsung berubah pesimistis ketika ditanya kapan tim sepakbola Indonesia masuka Piala Dunia. Dengan agak berpaling muka, Gus Dur nanggapi pertanyaan.

“Wah, masih lama.”
“Berapa Gus, 20 tahun lagi?”
“Wah, pokoknya masi lama. Lama sekali.”
Mumi 225 M

Suatu saat Gus Dur bersama dengan sahabatnya Bill Clinton sedang berjalan-jalan di sebuah museum di Lambah Baliem, Papua. Lalu mereka melihat sebuag mumi yang di bawahnya bertuliskan 225 M.

Bill Clinton: “225 M itu maksudnya apa ya?”
Gus Dur: “Mungkin itu nomor mobil yang menabraknya dulu.”

Dai Tangkap Imam dan Habib

Gus Dur dalam sebuah acara wawancara di stasiun televisi swasta tetap tampil dengan penuh humor. Gus Dur mengawali talkshow itu dengan menyatakan Indonesia adalah negara paling lucu.

Sebab, dai bisa menangkap habib dan imam. Padahal posisi dai lebih rendah dari habib dan imam.

Lah kok? “Lha iya, kan imamnya Imam Samudra, Habibnya Habib Rizieq, dan Dainya Da’i Bachtiar,” ujar Gus Dur.

Cuma Takut Tiga Roda

Suatu hari, ketika selesai menghadiri sebuah rapat di Istana Negara, Presiden Gus Dur sibuk memperbincangkan mengenai wabah demam berdarah yang akhir-akhir ini melanda Kota Jakarta.

“Menurut Anda, mengapa demam berdarah saat ini masih marak di Jakarta Pak?” tanya salah seorang menterinya.

“Ya karena Sutiyoso melarang bemo, becak, dan sebentar lagi bajaj dilarang beredar di kota Jakarta ini. Padahal kan nyamuk di sini cuma takut sama tiga roda …!”

Sphinx Menjawab

Dulu, cerita Gus Dur, semasa Gamal Abdul Nasser menjadi presiden Mesir, ada larangan yang sangat ketat bagi orang Mesir untuk berpegian ke luar negeri. Nah, pada suatu hari Nasser mengunjungi Abdul Haul alias patung Sphinx, di dekat piramida di Giza, di luar Kota Kairo.

Kedatangan Nasser ke situ tak lain adalah untuk berkonsultasi dengan “patung keramat” itu tentang masalah yang sedang dihadapi bangsa Mesir. Berkali-kali sudah ia mendatangi patung singa berkepala manusia yang berusia tujuh ribu tahun itu. Tapi, hasilnya selalu nihil.

“Mbah” Sphinx bungkam seribu basa, mogok menjawab. Nasser pun bingung. “Kenapa Sphinx tak juga mau menjawab, padahal aku adalah orang yang berkuasa penuh atas Mesir?” pikirnya.

Rupanya ia tak mau putus asa. Ia pun datang untuk yang kesekian kalinya. Sambil duduk bersimpuh di hadapan patung Sphinx, Nasser pun, sambil menangis dan mengadahkan tangan, kembali mengadukan persoalannya panjang lebar.

“AKu berjanji,” kata Nasser, “Kalau kamu mengabulkan permintaanku, apapun syarat yang kamu ajukan akan aku penuhi.”

Belum usai Nasser memanjatkan doanya, Sphinx menjawab, “Exit Permit.”

Slamet dan Untung

Ketika menemui Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS, Gubernur BI Sjahril Sabirin bertanya kenapa perekonomian Amerika bisa begitu kuat dibandingkan dengan Indonesia?

“Di Amerika ini kami punya Johny Cash (penyanyi ternama Las Vegas), Bob Hope (komedian terkenal), dan Stevie Wonder (penyanyi kulit hitam yang sangat hebat),” jawab Greenspan dengan mimik serius. “Tapi, Sjahrir, di Indonesia kalian tidak punya Cash (uang tunai), tak punya Hope (harapan), dan tidak memiliki Wonder (keajaiban)!”

Mendengar jawaban itu, Sjahrir hanya manggut-manggut. Sekembalinya ke Indonesia, ia menghadap Presiden Abdurrahman Wahid. “Bapak Presiden, ketika di Amerika Serikat saya sempat bertemu dengan Greenspan,” ungkap Sjahrir.

“Banyak hal yang saya tanyakan kepadanya. Termasuk soal kenapa perekonomian bangsa kita tidak sekokoh Amerika. Ternyata menurut Greenspan, kuncinya cuma pada Cash, Hope, dan Wonder, yang tidak kita miliki.”

Gus Dur hanya menanggapi dengan enteng. “Ah, gitu aja kok repot, wong kita masih punya banyak Slamet dan Untung kok.”

Nonton Film Kok Bawa Diktat

Ada pengalaman menarik dari kegiatan membaca Gus Dur yang diingat oleh Gus Mus. Suatu hari, Gus Dur dan Gus Mus sama-sama membaca buku di atas bus. Gus Dur kebetulan sudah selesai membaca, sedangkan Gus Mus belum.

”Gus Dur mengajak omong saya. Tapi karena saya belum rampung membaca buku sampai titik, saya umbarno wae dia,” tuturnya sembari tertawa.

Mengenai kegemaran Gus Mus menonton film, Gus Dur juga punya cerita. Gus Dur suatu hari memakai pakaian yang necis sekali di mata Gus Mus. Gus Dur yang jarang masuk kuliah itu tumben mengajak Gus Mus untuk berangkat kuliah bersama-sama dengan naik bus yang kebetulan ramai penumpang.

”Ketika mendekati kampus, baru kami mendapatkan tempat duduk,” kenang Gus Mus.

Sesampainya di depan kampus, Gus Mus mengajak Gus Dur untuk turun. Namun Gus Dur malahan tidak mau turun dan mengajak terus naik bus. Alasannya cukup aneh ditelinga Gus Mus, sayang turun dari bus karena baru saja mendapatkan tempat duduk.

Akhirnya Gus Mus mengalah dan mengikuti Gus Dur. Ketika bus berjalan lagi hingga hampir mencapai gedung bioskop, Gus Dur malah mengajak turun. “Tak tahunya dia telah membawa dua tiket nonton film dan saya diajak. Kalau tahu begitu, mending tidak usah bawa diktat untuk kuliah. Nonton film kok bawa diktat,” kata Gus Mus.

Gus Dur, katanya, juga sering nonton satu film dua kali. ”Kata Gus Dur, ada bagian di film itu yang kelewatan sehingga harus ditonton lagi,” tandasnya.

Gigi Raja Saudi

Di Inggris, Gus Dur antara lain menemui seorang ningrat Istana Buckingham yang sudah sangat tua. Protokol istana memberitahu bahwa pendengaran tuan sepuh sudah sangat payah. “Jadi, pandai-pandailah Anda mengatur diri,” pesan si protokol.

“Oke, oke, oke,” jawab Gus Dur sambil tersenyum – mungkin karena merasa, peran begini sudah sangat dikuasainya.

Benar saja. Ketika bertemu si Tuan sepuh, Gus Dur langsung membuka percakapan dengan mengatakan bahwa dia adalah orang Jawa. Dan dalam kebudayaan Jawa, kata dia, orang yang lebih muda harus mendengarkan orang yang lebih tua.

“Jadi, karena saya lebih muda, saya akan lebih banyak mendengar daripada berbicara,” ujar Gus Dur pada Tuan Sepuh.

“Wah kebetulan, telinga saya memang kurang baik,” jawab Tuan Sepuh dengan gembira – lalu bicara terus, dan membiarkan tamunya hanya menjadi pendengar.

Mampir di Arab Saudi, peristiwa itu diceritakan Gus Dur kepada Raja Saudi yang terkenal “sangat serius” dan hampir tidak pernah ketawa.

Ternyata, ketika Gus Dur menceritakan peristiwa di Inggris itu, sang raja tertawa cukup keras, sampai giginya terlihat.

Belakangan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) bilang pada Gus Dur bahwa dia telah melakukan tindakan yang luar biasa bagi rakyat Arab Saudi.

“Kenapa?” tanya Gus Dur.

“Sebab sampeyan sudah membuat Raja tertawa sampai giginya kelihatan – baru kali ini rakyat Saudi melihat gigi rajanya.”

Pendeta Sangat Dekat dengan Tuhan

Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.

Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta.

“Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si bhiksu menimpali; Kami juga dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda, pak kyai? Pak Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake menara,” urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan.

Siapa yang Mau Beli Pesawat?

Dalam sebuah kunjungan ke Amerika Serikat, pertengahan tahun 2000, Gus Dur antara lain bertemu dengan eksekutif puncak Boeing, industri raksasa pesawat terbang. Orang pun bertanya-tanya, apa pula urusannya Gus Dur dengan pembuat kapal mabur itu? Emangnya dia ahli pesawat terbang seperti Habibie?

Akhirnya Kepala Protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi mengungkapkan maksud pertemuan itu: Gus Dur mau beli pesawat kepresidenan, yang selama ini memang tidak pernah dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Kebiasaan Gus Dur tetap ampuh, bikin kontroversial di luar negerim dan menimbulkan reaksi di dalam negeri.

Pers Indonesia pun sibuk mengusut rencana pembelian pesawat yang dirasa waktunya sangat tidak tepat itu, Krisis ekonomi saja sama sekali belum terlihat teratasi, kok sekarang Presiden akan beli pesawat pribadi segala?

Di luar dugaan di Jakarta, Menko Perekonomia Rizal Ramli menegaskan uang untuk membeli pesawat yang diinginkan Gus Dur sudah ada dan siap dibelanjakan. Wah, ini makin ganjil. Hal itulah yang menyebabkan kritik publik makin kencang terdengar.

Sampai akhirnya Gus Dur kembali ke Jakarta. Wartawan pun bertanya, “Gus, mengapa Anda merasa perlu membeli pesawat Boeing itu? Gus Dur pun menjawab, “Lho, siapa yang mau beli pesawat?”

Wahyu Muryadi dan Rizal Ramli “kena batunya.” Sudah sibuk-sibuk membuat pembenaran untuk membela rencana Gus Dur, eh yang dibela malah membantahnya.

  1. Orang NU Gila

    Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dini hari para tamu itu datang silih berganti baik yang dari kalangan NU maupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.

    Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur. Menurutnya, ada tiga tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan membicarakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NI,” tegas Gus Dur.

    Orang NU jenis yang kedus, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU. “Itu namanya orang gila NU,” katanya.

    “Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” canda Gus Dur.

  2. Sudahkah Kalian Mengerti?

    Kejadian ini saat Gus Dur menggelar jumpa pers di Australia. Acara yang dihadiri ratusan wartawan bule itu berlangsung ramai. Guna menghindari pertanyaan wartawan yang pedas-pedas, Gus Dur langsung punya siasat dengan melemparkan sebuah pertanyaan.

    “Sudahkah kalian mengerti dengan apa yang saya sampaikan tadi?”
    “Sudah!!!” jawab wartawan serempak
    “Kalau begitu tak ada gunanya kalian bertanya lagi,” katanya singkat dan langsung berjalan meninggalkan para wartawan yang masih pada bengong dengan dituntun dua ajudannya.

    Keesokan harinya, kembali para wartawan menghadiri acara yang sana. Gus Dur masih setia mengulangi pertanyaan yang kemaren.

    “Sudahkah kalian mengerti tentang apa yang saya sampaikan tadi?’[
    “Tidaaaak!!!” jawab wartawan serempak
    “Kalau tidak, bagaimana bisa bertanya sesuatu yang nyambung dengan isi pidato saya?”
    Wartawan bengong lagi. Gus Dur dengan santainya langsung jalan dan pergi. Tak lupa digandeng dengan dua pengawalnya.

    Hari ketiga kembali para wartawan meminta keterangan dari Gus Dur.
    “Sudahkah kalian mengerti dengan apa yang saya bicarakan tadi?”
    “Sudaaah!!!”
    “Beluuuum!!!”
    Gus Dur ternyata tidak kehilangan akal. Seperti biasa Gus Dur menjawab dengan nada enteng. “Kalau begitu bagus. Yang sudah mengerti tolong menceritakan kepada yang belum mengerti.”

    Gus Dur pergi. Semua wartawan di dalam ruangan bengong melompong.

  3. Isinya Negara Federal

    Awal-awal reformasi menggelinding isu untuk mengubah negeri ini dari negara kesatuan menjadi negara federal. Bahkan salah satu fraksi di DPR mengusung isu penting itu. Karuan saja Presiden kala itu Megawati menjadi khawatir.

    Sementara Gus Dur seperti biasanya menanggapi isu itu dengan enteng dan tetap nyantai dalam mengeluarkan pernyataannya.

    “Kalau saya begini saja, namanya tetap negara kesatuan, tapi isinya pakai negara federal. Gitu saja kok repot.”